Aku hanya bisa menatap layar ponsel, bertanya dalam hati, “Apakah cintamu juga kalah oleh keadaan?”
Aku laki-laki dari Timur. Tanahku keras, penuh debu, dan langitnya luas tak berbatas. Aku tumbuh di antara angin pantai dan matahari yang tajam. Tak pernah kusangka, cinta justru datang dari arah yang jauh dari Selatan.
Kami kenal lewat Facebook. Perempuan itu tak banyak bicara, sekilas kupikir dia istri orang. Cantiknya sederhana, senyumnya menggoda rasa penasaran. Tapi saat aku mulai mengenalnya, semua prasangkaku gugur satu per satu.
Dia bukan istri siapa-siapa. Dia hanya seorang perempuan pemalu, manja, yang membawa hangat dalam tiap pesan yang ia kirimkan.
Satu hal yang membuatku kagum dia teguh dengan nilai hidupnya. Dia tak suka perokok. “Aku gak suka cowok ngerokok,” katanya lembut tapi tegas. Sejak itu, aku mulai menahan diri. Dan satu hal lagi, dia selalu ingatkan aku salat.
“Jangan lupa salat, ya. Dunia ini sebentar…” katanya, entah untuk keberapa kalinya. Tapi aku tak pernah bosan kadang aku lalai mendengarnya.
Hari-hari kami diwarnai tawa, rindu, kadang cemburu, kadang diam panjang. Dua tahun berjalan, cinta itu tumbuh perlahan, rasanya seperti sudah mengenal seumur hidup.
Namun kenyataan tak selalu bersahabat dengan perasaan. Aku tak punya pekerjaan tetap saat itu. Aku tahu, masa depanku belum cukup meyakinkan. Dan mungkin dia pun mulai merasa lelah menunggu kejelasan. Sampai akhirnya, tanpa kata putus, dia perlahan menjauh.
Tak ada marah. Hanya sunyi. Pesan-pesan yang dulu hangat, kini tak lagi muncul. Dan aku hanya bisa menatap layar ponsel, bertanya dalam hati, “Apakah cintamu juga kalah oleh keadaan?”
Tapi sampai hari ini, namamu masih kusimpan di dalam hati. Karena meski kamu pergi, Selatan tetap menyimpan namamu.
















