Ia membuktikan bahwa dari keterpurukan, harapan masih bisa dianyam, sekuat rotan, dan seteguh hati yang tak pernah menyerah.
PM,SANANA – Desa Kou, Kecamatan Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula adalah sebuah tempat yang dikelilingi oleh hutan tropis lebat dan aliran sungai kecil yang jernih.
Di tengah ketenangan alam yang mempesona, hidup seorang pengrajin rotan bernama Risman Umabaihi. Sejak kecil, ia telah terampil merangkai dan menganyam rotan, bakat yang diwarisi dari orang tuanya yang juga seorang pengrajin tradisional.
“Dari SD kelas 6, saya sudah belajar dari orang tua. Kebetulan orang tua juga pengrajin bakul dan atap dari daun Rumbia,” kata Risman saat diwawancarai pada Minggu, (27/04/2025)
Namun, perjalanan hidup Risman tak selalu mulus. Tahun 2020 menjadi titik kelam dalam hidupnya. Ia mengalami gangguan mental yang cukup berat, yang mengubah segala rutinitas dan hidupnya.
Dalam kondisi tersebut, ia sempat menjalani masa-masa sulit, bahkan harus dipasung dan diborgol akibat ketidaktahuan orang sekitar tentang cara yang tepat menangani masalah kesehatan mental.
“Saya pernah dipasung dan diborgol, dan itu saya tau,” ungkap Risman, suaranya bergetar dengan mata yang berkaca-kaca.
Kenangan pahit itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang tak mudah dilupakan. Namun, meski terpuruk dalam keterpurukan, Risman perlahan bangkit. Ia kembali menekuni kerajinan anyaman rotan yang dulu menjadi bagian dari hidupnya.
Kali ini, setiap anyaman rotan yang dibuatnya bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga sebuah usaha untuk menopang kebutuhan ekonominya.
“Alhamdulillah, dari hasil anyaman rotan bisa menopang kebutuhan ekonomi saya,” ujar Risman dengan penuh syukur.
Kini, pria 44 tahun itu, menganyam rotan tidak hanya untuk membuat kerajinan tangan, tetapi juga untuk menciptakan rangka atap rumah dari daun rumbia, sebuah kearifan lokal yang masih digunakan oleh masyarakat sekitar. Bakul buatan Risman pun dikenal kuat dan rapi, serta sangat diminati oleh warga setempat.
Apresiasi dari orang-orang terdekatnya datang dengan berlimpah. Mereka melihat Risman tidak hanya sebagai seorang pengrajin, tetapi juga sebagai pribadi yang tangguh dan mampu keluar dari keterpurukan.
Dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan mentalnya.
Bagi Risman, kerajinan anyaman rotan dan daun rumbia kini bukan hanya sebagai hasil karya biasa, tetapi juga sebagai sumber penghasilan yang menopang hidupnya. Ia membuktikan bahwa dari keterpurukan, harapan masih bisa dianyam, sekuat rotan, dan seteguh hati yang tak pernah menyerah. (tim_red)















