PM, SANANA– Di balik riuh gemuruh pertandingan bola voli dan sorak sorai penonton di Desa Dofa Kecamatan Mangoli Barat Kabupaten Kepulauan Sula. Ternyata tersimpan sebuah cerita yang menyentuh hati tentang rindu, keluarga, dan identitas.
DOIN Cup, turnamen voli yang kini memasuki gelaran ke-11, bukan sekadar ajang olahraga di Desa Dofa. Ia lahir dari kerinduan seorang ibu yang jauh dari kampung halamannya, dan sebuah perjalanan anaknya untuk menghidupkan kembali semangat komunitas dan cinta terhadap tanah kelahiran.
Adnan Husein, penggagas DOIN Cup, mengatakan bahwa masa-masa ketika sang ibu tengah sakit ia. Ia hanya ingin cerita Kabupaten Sula Desa Dofa.
“Umi saya waktu itu hanya ingin pulang kampung,” ujar Adnan pada Wartawan Minggu (15/06/2025).
“Meski diajak ke Bali atau ke luar negeri, ia hanya ingin kembali ke Desa Dofa. Pulang kampung seolah menjadi penguat semangat ibu,”Sambungnya.
Pada tahun 2013, Adnan bersama kakaknya, memutuskan pulang ke Desa Dofa. Di sana, Adnan merekam aktivitas di desa dan memutar video itu untuk sang ibu. Senyum cerah dan cerita penuh nostalgia yang keluar dari bibir umi membuat Adnan yakin, kampung halaman adalah sesuatu yang tak tergantikan.
Sebagai mantan pemain voli, Adnan melihat peluang untuk menyatukan warga desa melalui olahraga.
“Saya melihat ada yang main voli, saya ikut gabung. Dari situ muncul ide buat turnamen voli bernama DOIN Cup,” katanya.
Lanjutnya, DOIN sendiri adalah singkatan dari Dofa Indah, nama desa yang menjadi saksi lahirnya turnamen ini pada 2014.
“Sejak itulah saat ini, DOIN Cup menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya menghidupkan olahraga, tetapi juga menjadi medium pengikat rasa cinta dan kebersamaan masyarakat,”katanya.
Turnamen ini menjadi pengingat bahwa olahraga bisa menjadi jembatan emosional yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Dari kerinduan seorang ibu terhadap kampung halamannya, lahirlah sebuah acara yang menguatkan akar budaya dan identitas sebuah komunitas.
Kini, saat DOIN Cup memasuki tahun ke-11, semangat itu terus bergaung. Desa Dofa tidak hanya dikenal sebagai kampung halaman, tetapi juga sebagai tempat di mana rasa rindu dan kasih sayang mewujud dalam semangat olahraga dan persaudaraan. (red_)
















